IBU KOTA BONDOWOSO

•Februari 19, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kabupaten Bondowoso berbatasan dengan sebelah utara Kab. Situbondo, sebelah timur Kab. Banyuwangi, sebelah selatan Kab. Jember dan sebelah barat Kab. Probolinggo dan dikelilingi oleh gugusan Gunung, disebelah Timur Gunung Ijen, disebelah Barat Gunung Argopuro dan Gunung Putri dengan ketinggian antara 78 s/d 2.300 m diatas permukaan laut.

Secara administratif wilayah Kabupaten Bondowoso terdiri dari 20 Kecamatan, 185 Desa dan 10 Kelurahan. 624 Dusun, 4.948 Rukun Warga dan 13.472 Rukun Tetangga.

Penduduk Bondowoso berasal dari beragam suku, mayoritas berasal dari suku Jawa dan Madura yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian agraris. Tidak seperti dua kota tetangga terdekatnya (Jember dan Situbondo) yang perekonomiannya sempat dibantu oleh banyak industri pabrik gula, Kabupaten Bondowoso hanya mempunyai satu pabrik gula yaitu pabrik gula Prajekan.

Objek wisata yang terkenal dari Bondowoso, adalah agro wisata Kawah Ijen yang terletak 70 km arah tenggara Bondowoso. Selain menyajikan pesona kawah, ada banyak obyek wisata lain di sekitar Kawah Ijen, antara lain air terjun, Kawah Wurung, pemandian Damar Wulan, Jampit guest house, dll.

Di Bondowoso terdapat industri kerajinan kuningan yang terkonsentrasi di Desa Jurang Sapi, Kecamatan Wonosari dan industri tape manis yang sangat terkenal. Tape manis Bondowoso biasanya dikemas dalam “bèsèk” atau anyaman dari bambu berbentuk kotak, merk tape manis yang terkenal antara lain Tape manis 82, tape manis 31, dll. Toko penjual tape manis Bondowoso pada umumnya terkonsentrasi di Jalan Jendral Sudirman atau lebih dikenal daerah Pecinan.

BONDOWOSO

•Januari 30, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

BAGIAN BERDIRINYA BONDOWOSO

Besuki memulai existensinya ketika pada masa era kepemimpinan Raja Ronggo Sukowati dari Pamekasan Madura, yang pada saat itu kerajaan tersebut mengalami masa paceklik atau kekurangan pangan. sehingga pada saat itu dipandang perlu membuka daerah baru dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan pangan kerajaan ( P. Madura )

Sebagai daerah bukaan pertama adalah daerah Besuki, yang saat itu secara geografis mempunyai kemudahan dalam mencapai tempat tsb ( Besuki ) ini dikarenakan Besuki yang secara posisi persis bersebrangan utara-selatan dengan pantai Pamekasan. Baru kemudian selang waktu yang tidak lama, dibuka juga daerah-daerah baru seperti : Asembagus, Kraksaan dll.

Belum ada kejelasan sejarah siapa yang memimpin eskpedisi pembukaan daerah baru yang bernama Besuki ini, akan tetapi ketika di sesuaikan dengan sejarah Babat Besuki yang membuka areal daerah Besuki pertamakali adalah Ki Pateh Alos. Dalam Babat Besuki Ki Pateh Alos membuka daerah pertama kali di daerah Demung, yang kata Demung ini berasal dari kata Demang. pada waktu itu kademangan ini dimaksudkan bagian dari kerajaan Pamekasan, yang pada saat itu pula setidak-tidaknya Kademangan ini sudah mempunyai sebuah desa yang bernama Ketah. karena Demung ini posisinya tidak jauh dari desa Ketah ( Eks Kerajaan Ketah ? ).

Dalam perjalanan dibukanya daerah baru ini, Ki Pateh Alos sempat beberapa kali mengirim hasil bumi ke Pamekasan. sehingga sampai pada sebuah kesimpulan bahwa daerah bukaan baru ini ( Besuki ) dianggap berhasil! sehingga bertambah penduduk pulau Madura yang pergi kedaerah Besuki ini.

Sebelum Besuki menjadi Kadipaten sempat pusat pemerintahan dipindah dari Demung ke Daerah Meduren, karena daerah ini berkembang dengan pesat, sehingga daerah ini menjadi perebutan antara kerajaan pamekasan dan kerajaan yang berada di Probolinggo saat itu. Kerajaan Pamekasan mengalami kekalahan sehingga Besuki berubah menjadi bagian dari kerajaan di Probolinggo.

Pada masa inilah Kolonialisme dimulai, sehingga Besuki berubah status menjadi Kadipaten. dan kemudian setelah membuka daerah Bondowoso, Besuki bertambah statusnya menjadi ibu kota Karesidenan.

 

KUNINGAN BONDOWOSO LESU

•Januari 13, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Cindogo, Penghasil Kuningan Terbaik Jawa Timur yang Kini Lesu
Bahan Baku Melambung, Sebulan Belum Tentu Ada Pembeli
Kerajinan Kuningan produk Desa Cindogo Kecamatan Tapen pernah menikmati kejayaan. Namun, setelah reforamasi bergulir, produksi kuningan terpuruk. Dan, setelah delapan tahun reformasi belum ada tanda-tanda nasib pengrajin kuningan terbaik Jatim ini membaik.

Pagi kemarin suasan di Desa Cindogo yang berada di lintasan Bondowoso- Situbondo tampak sepi. Beberapa showroom kuningan yang bederet di sepanjang Jalan Situbodo itu tampak sepi. Suasana sepi kiena terasa di dalam showroom yang berada di depan rumah masing-masing pengrajin.

Kondisi itu terbalik dengan zaman Orde Baru yang dianggap sebagai masa keemasan. Saat itu, hampir tiap bulan puluhan rombongan dari berbagai daerah di Indonesia mampir di Cindogo. Tak heran, di sepanjang jalan di Desa Cindogo dijejali kendaraan roda empat.

“Kadang satu bulan penuh tidak ada pembeli besar mampir ke showroom kami,” keluh Bu Sus, seoarang pengrajin besar di Cindogo Tapen. Menurut dia, omset pembelinya turun sampai 75 persen. Kini, tinggal 25 persen hasil produksinya yang laku di pasaran.

Kondisi itu diperparah dengan ketersediaan bahan baku yang suaha didapat. Bahkan, harga bahan baku kuningan melambung dari Rp 10 ribu menjadi 40 ribu per kilanya. Akibatnya, ratusan pengrajian di Cindogo bayak yang gulung tikar. Bahkan, sebegian pekerja kuningan banyak yang banting stir menjadi TKI ke Tanah Jiran Malasyia.

Pasalnya, para pengrajian tidak lagi dipekerjakan untuk membuat kuningan oleh pengusaha setempat. Bahkan, para pengrajin yang kadang juga membuat kerajian sendiri di rumah juga tak mampu lagi memproduksi. Selainb tak mampu membeli bahan baku, barang porduksinya juga tak lagi laku di jual. Kalapun laku, harga jualnya juga rendah.

Tak ada pilihan, akhirnya para pengrajin tersebut banting stir ke pekerjaan lain. selain TKI, banyak diantaranya yang menggeluti usaha pertanian, atau usaha lain. Bahkan ada juga yang banting stir jadi tukang las. Gara-gara efek reformasi 1998 lalu kini tinggal 10 pengrajin besar yang masih mampu bertahap hidup.

Tak heran, mereka memimpikan suasana seperti sebelum reformasi 1998. Mereka mengaku kondisi ekonomi sekarang malah kian memperburuk kerajinan kuningan Cindogo. Apalagi, pemerintah dinilai tidak peduli terhadap kondisi kerajinan kuningan tersebut.

“Yang kami butuhkan adalah pasaran,” terangnya. Menurut dia, bantuan modal saja tidak cukup untuk mendongkrak kondisi kuningan Cindogo yang telah puluhan tahun menjadi ikon Bondowoso. Bahkan, dia mengaku tak lagi bisa mempercayai usaha pemerintah untuk kerajinan kuningan Cindogo.

Kusaeri, pengrajian lainnya mengaku tidak aktif dalam memproduksi kuningannya. Pasalnya. pasaran dari kuningan tidak sebagus puluhan tahun lalu. ’harus diakui pasar sekarang terpuruk dibandingkan beberap tahun lalu,” terang Kusaeri ketika ditemui Erje kemarin.

Dai menegaskan berusaha keras untuk tetap mempertahankan usaha kerajinana kuniangan. Sebab, kerajian kuningan dianggap warisan nenek moyang harus tetap dilestarikan. “Kerajian kuningan warisan leluhur,” imbuhnya.

Kini, sambungya, tinggal mempekerjakan belasan pengrajian. Padahal, sebelumnya ada sekitar 45 pekerja yang aktif memproduksi berbagai bentuk kuningan untuk di jual. Untuk mempertahakan porduksi kuningannya, dia berusaha membuka pasar di luar Bondowoso.

Pak Jufri, pengrajian lainnya juga tak lagi mampu memproduksi kuningan sendiri. Dia hanya mengeluarkan kemampuan mengelas kuningan jika ada pesanan dari pengrajin besar. “Sekarang tidak lagi mampu memproduski kerajinan kuningan snediri,’ imbuhnya.

Kalaupun, membuat kerajinan, dia kerap diminta bantuan oleh pengarajin yang besar. Pasalnya, banyak pekerja pengrajin besar yang teleh berhenti karena tidak lagi bekerja. ’Kalau ada pesanana dari H Abdullah saya bekerja, kalau tidak saya mengelas besi biasa,” kata Pak Jupri kemarin.

Menurut dia, hampir semua pengrajian kuningan yang kecil sekarang tak lagi mampu memproduksi. Sebab, ongkos produksi lebih besar di bandingkan harga jual di pasaran. Apalagi, pasaran kuningan di Indoensia sekarang lagi terpuruk. Sehingga hanya pengrajin besar yang mampu membawa produksinya ke luar daerah atau keluar negeri yang bisa bertahan.

Melihat kondisi itu, para pengrajin berharap kondisi ekonomi Indonesia kembali bangkit. Sehingga diharapkan juga mendongkrak kembali pernjaulan kerajinan kuningan asal Desa Cindogo Kecamatan Tapen. (*)

sUmber : jawa pos

kuningan

•Desember 30, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Perajin Kuningan Kesulitan Bahan Baku
BONDOWOSO – Perajin kuningan di Desa Cindogo, Kecamatan Tapen, terancam gulung tikar. Saat ini, para perajin kuningan tersebut kesulitan bahan baku. Selain itu, kenaikan harga bahan baku juga memicu sebagian perajin menghentikan aktivitasnya.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Bondowoso Hosni Syam, mengakui banyak perajin kuningan di Cindogo yang mengurangi produksi. Bahkan, ada sebagian yang terpaksa menghentikan kegiatannya. “Perajin yang besar saja yang masih bertahan,” kata Hosni Syam kepada Erje. Sedangkan banyak perajin kecil terpaksa gulung tikar.

Menurut mantan kepala Kantor Infokom Bondowoso itu, penyebab menurunnya poduktivitas kuningan adalah bahan baku yang sangat sulit didapat. Kalaupun ada, harganya berlipat.

Ditambah lagi para perajin harus mencari bahan baku kuningan hingga ke kota lain. Mulai dari Surabaya, Jogjakarta, hingga Jakarta. Karena itu, biaya transportasi juga bertambah. Sehingga, biaya produksi kuningan juga kian meroket. “Biaya operasional bertambah besar, nggak nutut,” imbuh pria yang sebagian keluarganya juga menggeluti kerajinan kuningan tersebut.

Karena masalah itu, perajin kuningan yang skalanya kecil banyak yang menghentikan produksi. Sebab, biaya produksi dengan nilai jual tidak sebanding.

Zaenuri, salah satu perajin di Cindogo Tapen mengakui sulitnya mencari bahan baku. Kata dia, kesulitan itu mulai muncul sejak krisis ekonomi (krismon) 1998. Namun, saat ini kondisinya semakin parah.

Krismon juga berdampak pada penjualan. Show room yang berada di pinggiran jalan di Desa Cindogo Tapen itu sering terlihat sepi. Hanya pada hari-hari tertentu saja pendatang dari luar kota berkunjung ke Cindogo. Padahal, sebelum krismon show room kuningan Cindogo selalu ramai.

“Saat ini hanya pada Lebaran saja show room kami dikunjungi pembeli,” terangnya. Karena itu, saat ini perajin harus bisa memasarkan produknya ke luar kota agar kerajinannya tetap bisa hidup.

Selain itu, para perajin berharap agar Pemkab Bondowoso ikut serta dalam mempromosikan kuningan Cindogo Tapen. Dengan campur tangan pemkab, diharapkan kerajian kuningan Cindogo kembali semarak seperti sebelum krismon. Padahal, kualitas kuningan Cindogo sangat diakui kabupaten lain. (aro)

Sumber dari : jawapos tgl.30/1207

kota koe ternyata..

•November 20, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

kawah ijen

BONDOWOSO – TEBAR PESONA

.KAWAH IJEN
Kawah ijen adalah salah satu tempat tuijuan wisata yang sudah trkenal baik oleh wisatawqan mancanegara maupun wisatawan Nusantara. Kawah ijen terletak di desa sempol, kecamatan sempol yang memiliki panorama alam indah dan menawan dengan kawah yang masih aktif. Temperature rata-rata 2C-8C dan terletak diketinggian 2.386 MDpl. Dengan hiasan hamparan bungan edelweiss dan tumbuhan lainnya seperti: cemara gunung, dan berbagai macan satwa seperti Ayam hutan, landak dll. Jarak antara pusat
kota bondowoso ke kawah ijen 74 km. dengan beberapa fasilitas antara lain: tempat menginap, areal perkemahan, shelter dan pusat layanan informasi, musholla dll.
GUNUNG RAUNG
Gunung Raung termasuk deretan pegunungan ijen, tepatnya di desa Sumber Wringin Kecamatan Sumber Wringin. Gunung raung memiliki pemandangan yang menarik serta hamparan flora serta berbagai jenis satwa. Wisata ini sangat menarik dan menantang, khususnya wisatawan dapat memulai pendakian dari Pos I (Pensanggrahan Sumber Wringin) yang dilengkapi dengan sejumlah pemandu wisata yang siap melayani wisatawan.
AIR TERJUN BELAWAN
Air Terjun Blawan terletak di Desa Kalianyar, kecamatan Sempol, 74 Km dari
pusat
kota Bondowoso, air terjun ini adalah hilir dari kali pahit rembesan kawah ijen yang penuh dengan kadar belerang serta dikelilingi oleh tumbuhan Makadamia.
Selain air terjun Blawan juga terdapat pemandian air panas yang juga termasuk di kawasan air terjun Blawan.
Ada beberapa fasilitas disini antara lain: shelter dan hotel.
AGROWISATA KEBUN KOPI ARABIKA KALISAT JAMPIT
Agrowisata ini dikelola oleh PTP Nusantara XII Kalista Jampit, terletak 74 Km kea rah timur Kabupaten Bondowoso. Luas areal perkebunan ini 4000 Ha dan terletak pada ketinggian 900 Mdpl. Setiap wisatwqn dapat menyasksikan dan menikmati keindahan panorama alam serta menyaksikan proses pengepakan kopi serta penggiliangan kkopi hingga menjadi kokpi instant siap saji yang memiliki rasa dan aroma khas kopi arabika.
Disamping menikmati kopi arabika para wisatawan dapat menggunakan beberapa fasailitas antara laian: kebun bungha mawar dan lily, arena pemancingan, tempat perapian di guest house Jampit I, arabiaka Homesstay Jampit II, kolam renang, ruang pertemuan, hiburan, istirahat minum kopi dan dilengkapi dengan lapanga tennis. Lahan yang luas dapat digunakan untuk bersepeda santai dan arena wisata mobil.

AIR TERJUN PULO AGUNG
Air terjun ini terletak di desa Sukorejo Kecamatan Sumbr wringin 40 Kmsebelah timur kota Bondowoso. Air terjun ini terletak di areal perkebunan milik masyarakat, ini adlah obyek wisata yang baru dibuat dan dibangun pada tahun 2003 dan dikelola oleh Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Bondowoso. Ketinggian air terjun ini 30 M yang memiliki keindahan alami dan pemandangan yang indah. Juga terdapat lembah hijau yang terlalu luas.
Air ini di lengkapi pula oleh 3 buah shelter yang di tempatkan di sekelliling lokasi.
Para wisatawan dapat mengunjungi tempat ini dengan menggunakan sarana transportasi umum, tetapi untuk mencapai lokasi terjun harus berjalan kaki.
AIR TERJUN TANCAK KEMBAR
Obyek wisata ini terletak di Dewsa Andungsari Kecamatan Paskem, tepatnya 18 Km ke arah barat Kota Bondowoso dengan ketinggian air terjum 77 M. Tempat ini didukung oleh pusat penelitian kopi arabika. Luas dari areal ini 380 Ha manfaat dari air terjun ini digunakan sebagia sarana iorigasi. Kepercayaan masyarakat setempat air terjun sebelah kiri di jaga oleh penunggu laki-laki dan sebelah kanan di jaga oleh penunggu perempuan, dan bagi pengunjung yanhh membasuh muka/wajah akan menjadi awet muda.
PEMANDANGAN ALAM ARAK – ARAK
Obyek wisata ini trletak dijalur antara Surabaya – Bondowoso, tepatnya di desa Sumber Canting Kecamatan Wringin dengan ketinggian 345 Mdpl. Wisatawan dapat menikmati udara segar serta dapat melihat panorama alam yang mempesona. Wisatawan dapat mengunjungi obyek ini dengan menggunakan tranportasi umum (Bus, MPU)
PEMANDIAN ALAM TAMAN TASNAN
Taman pemandian alam Tasnan terletak di desa Taman, kecamatan Grujukan tepatnya 7 Km dari Kota Bondowoso.
Pemandian ini memilikki kenyamanan dan keamanan bagi pengunjung serta mudah dikunjungi dengan menggunakan transportasi umum. Tempat ini juga dilengkapi dengan beberapa sarana antara lain shelter, ruang ganti, musholla, panggung hiburan dan tasnan tempat beristirahat.
BUNGA LELLY DAN EDELWEISS
Bunga lely tumbuh dan berkembang di Agrowisata PTP Nusantara XII kebun Kalisat Jampit Kecamatan Sempol dan kebun percobaan Puslit Andungsari Kecamatan Pakem. Ditempat ini juga terdapat homestay, sayuran, taman bunga, hamparan taman kopi Arabika tersebut proses penggilingan kopi. Pengunjung juga bisa membeli bunga lely juga dipasarkan di
Surabaya dan Bali. Sedangkan bunga edelweiss bisa kita jumpai hamper sepanjang perjalanan menujui ke Kawah Ijen dan perkemahan Kawah ijen di Paltuding. Jarak agrowisata PTPN XII Kalisat Jampit kira-kira 17 Km atau 20 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor.
KESENIAN TRADISIONAL SINGO ULUNG
Singo adalah nama sebuah nama seorang tokoh yang berasal dari Blambangan. Singo Ulung dan istrinya Nyi Moena an para pengikutnya seperti Ki Jasiman bahu membahu untuk mewujudkan suatu kesejahteraan social. Karena keberhasilanya dia dipilih menjadi kepala desa, kemudian dia menciptakan sebuah kesenian Singo Ulung yang dimainkan oleh dua orang sehingga menyerupai Singa sungguhan yang diiringi oleh musik gamelan, khususnya drai desa blimbing – kecamtan Klabang. Kesenian ini digabung dengab kesenian “pojian, Kesenian Ojung” yang ditampilkan dalam sebuah acara yang bernama: ERSIH DESA BLIMBING” yang selalu dilaksanakan setiap tahun ( pada bulan Sya’ban / Ruwah). Di samping dalam acara tersebut kesenian ini dapat disaksikan didalam perayaan hari Jadi Bondowoso, tepatnya setiap tanggal 16 Agustus.
PENINGGALAN KUNO SARKOPAGE
Sarkopage adalah salah satu dari situs megalitikum yang lebih dikenal dengan nama keranda yang lebih dibuat dari batu atau sejenis batu cadas. Berbentuk lesung dasn palung, tetapi ada tutupnya, fungsinya sama dengan kuburan batu /dolmen saarkopage terdapat dibeberapa desa antara lain desa 19 Km kearah barat
Kota±Glinseran – Kecamatan Wringin, tepatnya Bondowoso. Bondowoso _Wringin : 16 Km (MPU) dan Wringin – lokasi 2 Km (ojek).
MONUMEN GERBONG MAUT

TANGGAL
23 November 1947 sejarah mencatat dengan tiinta emas tentang perjuangan rakyat Bondowoso melawan penjajah.
Seratus orang pejuang diangkut dengan gerbong dari stasiun kerata api bondowoso pukul 03.00 WIB dini hari menuju penjara Kali sosok
Surabaya. Kejadian tersebut dikenal dengan peristiwa gerbong MAut di abadikan dengan sebutan MONUMEN GERBONG MAUT yang terletak di jantung Kota Bondowoso, dan menjadi obyek bersejarah bagi Bondowoso.
INDUSTRI KUNINGAN
Kerajinan 16 Km sebelah timur
±kuningan terdapat didesa Cindogo kecamatan Tapen kota bondowoso tepatnya disekitar jalan Bondowoso – Situbondo. Terdapat banyak jenis kerajinan kuningan antara lain: perlengkapan rumah tangga, perlengkapan upacara adat (bokor dan gayung) dan berbagai jenis souvenir. Kuningan ini memiliki warna yang indah dan tidak mudah pudar / luntur. Kerajinan kuningan ini sudsah tersdebar dimana-mana dan bahkan sudah diexpor ke luar negeri.
BENDI WISATA

Jika anda berkunjung ke Kota Bondowoso, belum lengkap kiranya kalau belum naik Bendi Wisata khas Bondowoso. Bentuknya yang unik dan berkesan klasik, juga letakny ayang srategis yaitu di Alun-alun Kota Bondowso, menbuat seiap orang yang singgah disana ingin berkeliling kot adengan mengendarainya.
PANDE BESI
Berbagai jenis pisau dan pedang diproduksi secara tetap dengan kualitas prima. Pande ini diproduksi di Desa Pucang Anom-Kecamatan Tamanan. Banyak para pengusaha yang memesan dan menjualnya diberbagai
kota.
TAPE
Seperti yang kita kenal bahwa Bondowoso terkenal sebaga Tape. Tape Bondowoso mempunyai rasa yang sangat manis yang tidak dapat ditiru oleh
Kota lain. Banyak merek tape Bondowoso bernama: Tape 31 manis asal desa Wringin, Tape 82 asal Jl. PB. Sudirman; Tape Manalagi asal Jl. RE Martadinata; Tape 94 at Jl. Diponegoro Tape 66 dan 26 asal Jl. Teuku Umar; Tape 07 asal Kec Pujer Tape Bondowoso dapat digunakan sebagai Parsel.
Tape dapat dimodofikasi dalam beberapa makanan antara lain: dodol, suwar-suwir dll.
INDUSTRI KLOMPEN
Klompen (sandal terbuat dari kayu mindi) diproduksi secara tetap sesuai dengan pesanan. Tempatnya industri ini terletak di desa Jambe Anom Kecamatan Tamanan, kurang lebig 15 km dari Kota Bondowoso kea rah Selatan.
KERAJINAN BORDIR
Kerajinan km dari
kota±Bordir banyak dihasilkan di Kecamatan Curahdami, Bondowoso. Jenis pakai yang diproduksi sesuia dengan permintaan konsumen/pesanan. Jasil produksi sudah dipasarkan sampai ke Malaysia dan Singapura.
BATIK TULIS SUMBERSARI
Kerajinan batik tulis tradisional dari Kabupaten Bondowoso yang lebih dikenal nam batik singkong Maesan, beberapa tahun terakhir ini telah dikelola sedemikian rupa sehingga dapat terus berkembang, dan bersaing dengan produk-produk batik lain di Indonesia. Batik tulis Tradisional Bondowoso memiliki cirri khas tersendiri, yaitu terkarakteristik oleh corak buah singkong yang banyak dijumpai diBondowoso, dan merupakan bahan pembuatan Tape. Disebut batik singkong Maesan, karena awal mula dan pusat industrinya berada di Kecamatan Maesan, kurang lebih 13 Km dari Kota Bondowoso.
KERAJINAN MANIK-MANIKBerbagai jenis kerajinan tangan seperti kalung, gelang, incin, tas dan ikat pinggang, yang dibuat dari bahan-bahan kerang, bvanyak diprobuksi di Kecamatan Crèmee Kabupaten Bondowoso, kurang lebih dari 32 km kearah timur laut dari
kota Bondowoso. Harganya yang rekatif murah, dengan keanekaragaman warna, bentuk, dan ukurannya, menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung untuk memilikinya maupun dijadikan sebagai cinderamata teman dan keluarga.
KERAJINAN KULIT
Kerajinan kulit ini berpusat di Kecamat Pujer, kurang lebih 12 km arah selatan Kota Bondowoso. Produk-produk yang dihasilkan diantaranya jaket, tas pinggang, ikat pinggang, dompet, dan berbagai macam jenis, model, ukuran, dan warna lainny. Beberapa produk juga dikerjakan berdasarkan pesanan konsumen. Semua itu dibuat dari bahan kulit sapi yang bermutu tinngi. Kualitas produk yang satu ini tidak perlu diragukan lagi, dan harganya pun relative terjangkau. Biasanya produk-produk tersebut dipasarkan di daerah
Bali.
KERAJINAN PERAK
Kerajinan di Bondowoso bisa dikatakan baru seumur jagung. Namun bukan berarti tidak memiliki kualitas yang baik. Produk-produk yang dihasilkan seperti gelang, kalung, dan cincin, tidak hanya dipasarkan di wilayah Bondowoso dan sekitarnya saja, akan tetapi telah dapat menembus pasar Internasional, seperti Belanda, Jerman dan Amerika. Pusat kerajinan perak terletak di Desa Jati Tambang Kecamatan Wringin Kabupaten Bondowoso, kurang lebih 16 km kea rah barat laut dari jantung
kota Bondowoso.
MEBEL PELEPAH PISANG
Kerajinan mebel yang satu ini berbeda dengan produksi mebel-mebel lainnya yang pada umumnya menggunakan bahan
baku dasar kayu atau rotan. Mebel ini menggunakan media pelepah pisang sebagai bahan utamanya. Seperti halnya mebel-mebel lain, mebel pelepah pisang juga dibuat dalam berbagai macam bentuk dan ukuran. Pusat kerajinan mebel pelepah pisang adalah di Desa Karang Melok, kecamatan Tamanan, kurang lebih 15 Km kearah selatan dari Kota Bondowoso.
PANJAT TEBING PATIRANA
Bagi setiap orang yang mencintai olah raga panjat dinding ataupun tebing, maka tempat yang satu ini patut menjadi salah satu uji nyali bagi pendaki. Letaknya di Desa Patirana – Kecamatan Grujugan , 7 Km kearah selatan Kota Bondowoso.
Medan pendakian yang begitu menantang, dengan sampai°fariasi –fariasi bebatuan dan kemiringan tebing mulai dari 45 75 M, menjadi tempat±, serta ketinggian tebing mencapai °dengan 90 yang sangat cocok bagi para pendaki baik yamh pemula maupun professional.
Siswa atau pencinta alam sring menggunakan Patirana sebagai tempat kemah sekaligus mencoba tantangan Patirana, Fasilitas yang tersedia diantaranya: shelter, kamar mandi dan Balairung, tempat parker dll
ARUNG JERAM BOSAMBA
Salah satu obyek yang termasuk dalam wisata minat khusus di Kabupaten Bondowoso adalah arung jeram. Obyek wisata yang juga ditengah kembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Bondowoso. Keindahan alam yang dilalui sepanjang perjalanan membuat daerah ini tidak hanya ingin dinikmati oleh masyarakay Bondowoso saja, akan tetapi para pencinta olah raga Arum Jeram dari dari daaerah lain juga tidak ketinggalan untuk menikmatinya. Akses menuju tempat ini sangat mudah karena dapat dilewati oleh transportasi umum.

ASAL – USUL BONDOWOSO …. ?

•November 20, 2007 • 1 Komentar

1makam.jpg

R. BAGUS ASSRAH PENDIRI BONDOWOSO
Semasa Pemerintahan Bupati Ronggo Kiai Suroadikusumo di Besuki mengalami kemajuan dengan berfungsinya Pelabuhan Besuki yang mampu menarik minat kaum pedagang luar. Dengan semakin padatnya penduduk perlu dilakukan pengembangan wilayah dengan membuka hutan yaitu ke arah tenggara. Kiai Patih Alus mengusulkan agar Mas Astrotruno, putra angkat Bupati Ronggo Suroadikusumo, menjadi orang yang menerima tugas untuk membuka hutan tersebut. usul itu diterima oleh Kiai Ronggo-Besuki, dan Mas Astrotruno juga sanggup memikul tugas tersebut. Kemudian Kiai Ronggo Suroadikusumo terlebih dahulu menikahkan Mas Astotruno dengan Roro Sadiyah yaitu putri Bupati Probolinggo Joyolelono. Mertua Mas Astrotruno menghadiahkan kerbau putih “Melati” yang dongkol (tanduknya melengkung ke bawah) untuk dijadikan teman perjalanan dan penuntun mencari daerah-daerah yang subur.

Pengembangan wilayah ini dimulai pada 1789, selain untuk tujuan politis juga sebagai upaya menyebarkan agama Islam mengingat di sekitas wilayah yang dituju penduduknya masih menyembah berhala. Mas Astrotruno dibantu oleh Puspo Driyo, Jatirto, Wirotruno, dan Jati Truno berangkat melaksanakan tugasnya menuju arah selatan, menerobos wilayah pegunungan sekitar Arak-arak “Jalan Nyi Melas”. Rombongan menerobos ke timur sampai ke Dusun Wringin melewati gerbang yang disebut “Lawang Sekateng”. Nama-nama desa yang dilalui rombongan Mas Astrotruno, yaiitu Wringin, Kupang, Poler dan Madiro, lalu menuju selatan yaitu desa Kademangan dengan membangun pondol peristirahatan di sebelah barat daya Kademangan (diperkirakan di Desa Nangkaan sekarang).

Desa-desa yang lainnya adalah disebelah utara adalah Glingseran, tamben dan Ledok Bidara. disebelah Barat terdapat Selokambang, Selolembu. sebelah timur adalah Tenggarang, Pekalangan, Wonosari, Jurangjero, Tapen, Praje,kan dan Wonoboyo. Sebelah selatan terdapat Sentong, Bunder, Biting, Patrang, Baratan, Jember, Rambi, Puger, Sabrang, Menampu, Kencong, Keting. Jumlah Penduduk pada waktu itu adalah lima ratus orang, sedangkan setiap desa dihuni, dua, tiga, empat orang. kemudian dibangunlah kediaman penguasa di sebelah selatan sungai Blindungan, di sebelah barat Sungai Kijing dan disebelah utara Sungai Growongan (Nangkaan) yang dikenal sebagai “Kabupaten Lama” Blindungan, terletak ±400 meter disebelah utara alun-alun.

Pekerjaan membuka jalan berlangsung dari tahun 1789-1794. Untuk memantapkan wilayah kekuasaan, Mas Astrotruno pada tahun 1808 diangkat menjadi demang denga gelar Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno, dan sebutannya adalah “Demang Blindungan”. Pembangunan kotapun dirancang, rumah kediaman penguasa menghadap selatan di utara alun-alun. Dimana alun-alun tersebut semula adalah lapangan untuk memelihara kerbau putih kesayangan Mas Astrotruno, karena disitu tumbuh rerumputan makanan ternak. lama kelamaan lapangan itu mendapatkan fungsi baru sebagai alun-alun kota. Sedangkan di sebelah barat dibangun masjid yang menghadap ke timur. Mas Astrotruno mengadakan berbagai tontonan, antara lain aduan burung puyuh (gemak), Sabung ayam, kerapan sapi, dan aduan sapi guna menghibur para pkerja. tontonan aduan sapi diselenggarakan secara berkala dan mejdi tontonan di Jawa Timur sampai 1998. Tas jasa-jasanya kemudian Astrotruno diangkat sebagai Nayaka merangkap Jaksa Negeri.
Dari ikatan Keluarga Besar “Ki Ronggo Bondowoso” didapat keterangan bahwa pada tahun 1809 Raden bagus Asrrah atau mas Ngbehi Astrotruno dianggkat sebagi patih beriri sendiri (zelfstanding) dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi kertonegoro. Beliau dipandang sebagai penemu (founder) sekaligus penguasa pemerintahan pertama (first ruler) di Bondowoso. Adapau tempat kediaman Ki Kertonegoro yang semula bernama Blindungan, dengan adanya pembangunan
kota diubah namanya menjadi Bondowoso, sebagi ubahan perkataan wana wasa. Maknanya kemudiandikaitkan dengan perkataan bondo, yang berarti modal, bekal, dan woso yang berarti kekuasaan. makna seluruhnya demikian: terjadinya negeri (kota) adalah semata-mata karena modal kemauan kleras mengemban tugas (penguasa) yang diberikan kepada Astrotruno untuk membabat hutan dan membangun kota.

Meskipun Belanda telah becokol di Puger dan secara administrtatif yuridis formal memasukan Bondowoso kedalam wilayah kerkuasaannya, namun dalam kenyataannya pengangkatan personil praja masih wewenang Ronggo Besuki, maka tidak seorang pun yang berhak mengkliam lahirnya kota baru Bondowoso selain Mas Ngabehi Kertonegoro. Hal ini dikuatkan dengan pemberian izin kepada Beliau untuk terus bekerja membabat hutan sampai akhir hayat Sri Bupati di Besuki.

Pada tahun 1819 Bupati Adipati Besuki Raden Ario Prawiroadiningrat meningkatkan statusnya dari Kademangan menjadi wilayah lepas dari Besuki dengan status Keranggan Bondowoso dan mengangkat Mas Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa wilayah dengan gelar Mas Ngabehi Kertonegoro, serta dengan perdikat Ronngo I. Hal ini berlangsung pada hari Selasa Kliwon, 25 Syawal 1234 H atau 17 agustus 1819. Peristiwa itu kemudian dijadikan eksistensi formal Bondowoso sebgai wilayah kekuasaan mandiri di bawah otoritas kekuasaan Kiai Ronggo Bondowoso. Kekuasaan Kiai Ronggo Bondowoso meliputi wilayah Bondowoso dan Jember, dan berlangsung antara 1829-1830.

Pada 1830 Kiai Ronggo I mengundurkan diri dan kekausaannya diserahkan kepada putra keduanya yang bernama Djoko Sridin yang pada waktu itu menjabat Patih di Probolinggo. Jabatan baru itu dipangku antar 1830-1858 dengan gelar M Ng Kertokusumo dengan predikat Ronggo II, berkedudukan di Blindungan sekarang atau jalan S Yododiharjo (jalan Ki Ronggo) yang dikenal masyarakat sebagi “Kabupaten lama”.Setelah mengundurkan diri, Ronggo I menekuni bidang dakwah agama Islam dengan bermukim di Kebundalem Tanggulkuripan (Tanggul, Jember), Ronggo I wafat pada 19 Rabi’ulawal 1271 H atai 11 Desember 1854 dalam usia 110 tahun. jenazahnya dikebumikan disebuah bukit (Asta Tinggi) di Desa Sekarputih. Masyarakat Bondowoso menyebutnya sebagai “Makam Ki Ronggo”.

Halo dunia!

•November 2, 2007 • 1 Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.