Cindogo, Penghasil Kuningan Terbaik Jawa Timur yang Kini Lesu
Bahan Baku Melambung, Sebulan Belum Tentu Ada Pembeli
Kerajinan Kuningan produk Desa Cindogo Kecamatan Tapen pernah menikmati kejayaan. Namun, setelah reforamasi bergulir, produksi kuningan terpuruk. Dan, setelah delapan tahun reformasi belum ada tanda-tanda nasib pengrajin kuningan terbaik Jatim ini membaik.
Pagi kemarin suasan di Desa Cindogo yang berada di lintasan Bondowoso- Situbondo tampak sepi. Beberapa showroom kuningan yang bederet di sepanjang Jalan Situbodo itu tampak sepi. Suasana sepi kiena terasa di dalam showroom yang berada di depan rumah masing-masing pengrajin.
Kondisi itu terbalik dengan zaman Orde Baru yang dianggap sebagai masa keemasan. Saat itu, hampir tiap bulan puluhan rombongan dari berbagai daerah di Indonesia mampir di Cindogo. Tak heran, di sepanjang jalan di Desa Cindogo dijejali kendaraan roda empat.
“Kadang satu bulan penuh tidak ada pembeli besar mampir ke showroom kami,” keluh Bu Sus, seoarang pengrajin besar di Cindogo Tapen. Menurut dia, omset pembelinya turun sampai 75 persen. Kini, tinggal 25 persen hasil produksinya yang laku di pasaran.
Kondisi itu diperparah dengan ketersediaan bahan baku yang suaha didapat. Bahkan, harga bahan baku kuningan melambung dari Rp 10 ribu menjadi 40 ribu per kilanya. Akibatnya, ratusan pengrajian di Cindogo bayak yang gulung tikar. Bahkan, sebegian pekerja kuningan banyak yang banting stir menjadi TKI ke Tanah Jiran Malasyia.
Pasalnya, para pengrajian tidak lagi dipekerjakan untuk membuat kuningan oleh pengusaha setempat. Bahkan, para pengrajin yang kadang juga membuat kerajian sendiri di rumah juga tak mampu lagi memproduksi. Selainb tak mampu membeli bahan baku, barang porduksinya juga tak lagi laku di jual. Kalapun laku, harga jualnya juga rendah.
Tak ada pilihan, akhirnya para pengrajin tersebut banting stir ke pekerjaan lain. selain TKI, banyak diantaranya yang menggeluti usaha pertanian, atau usaha lain. Bahkan ada juga yang banting stir jadi tukang las. Gara-gara efek reformasi 1998 lalu kini tinggal 10 pengrajin besar yang masih mampu bertahap hidup.
Tak heran, mereka memimpikan suasana seperti sebelum reformasi 1998. Mereka mengaku kondisi ekonomi sekarang malah kian memperburuk kerajinan kuningan Cindogo. Apalagi, pemerintah dinilai tidak peduli terhadap kondisi kerajinan kuningan tersebut.
“Yang kami butuhkan adalah pasaran,” terangnya. Menurut dia, bantuan modal saja tidak cukup untuk mendongkrak kondisi kuningan Cindogo yang telah puluhan tahun menjadi ikon Bondowoso. Bahkan, dia mengaku tak lagi bisa mempercayai usaha pemerintah untuk kerajinan kuningan Cindogo.
Kusaeri, pengrajian lainnya mengaku tidak aktif dalam memproduksi kuningannya. Pasalnya. pasaran dari kuningan tidak sebagus puluhan tahun lalu. ’harus diakui pasar sekarang terpuruk dibandingkan beberap tahun lalu,” terang Kusaeri ketika ditemui Erje kemarin.
Dai menegaskan berusaha keras untuk tetap mempertahankan usaha kerajinana kuniangan. Sebab, kerajian kuningan dianggap warisan nenek moyang harus tetap dilestarikan. “Kerajian kuningan warisan leluhur,” imbuhnya.
Kini, sambungya, tinggal mempekerjakan belasan pengrajian. Padahal, sebelumnya ada sekitar 45 pekerja yang aktif memproduksi berbagai bentuk kuningan untuk di jual. Untuk mempertahakan porduksi kuningannya, dia berusaha membuka pasar di luar Bondowoso.
Pak Jufri, pengrajian lainnya juga tak lagi mampu memproduksi kuningan sendiri. Dia hanya mengeluarkan kemampuan mengelas kuningan jika ada pesanan dari pengrajin besar. “Sekarang tidak lagi mampu memproduski kerajinan kuningan snediri,’ imbuhnya.
Kalaupun, membuat kerajinan, dia kerap diminta bantuan oleh pengarajin yang besar. Pasalnya, banyak pekerja pengrajin besar yang teleh berhenti karena tidak lagi bekerja. ’Kalau ada pesanana dari H Abdullah saya bekerja, kalau tidak saya mengelas besi biasa,” kata Pak Jupri kemarin.
Menurut dia, hampir semua pengrajian kuningan yang kecil sekarang tak lagi mampu memproduksi. Sebab, ongkos produksi lebih besar di bandingkan harga jual di pasaran. Apalagi, pasaran kuningan di Indoensia sekarang lagi terpuruk. Sehingga hanya pengrajin besar yang mampu membawa produksinya ke luar daerah atau keluar negeri yang bisa bertahan.
Melihat kondisi itu, para pengrajin berharap kondisi ekonomi Indonesia kembali bangkit. Sehingga diharapkan juga mendongkrak kembali pernjaulan kerajinan kuningan asal Desa Cindogo Kecamatan Tapen. (*)
sUmber : jawa pos
Ditulis dalam Tidak terkategori